Cipondoh, Rabu, 5 Februari 2026 – Seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia dengan cara mengakhiri hidupnya di sebuah pohon cengkih. Tragedi yang menyayat hati ini diduga kuat dipicu oleh beban psikologis karena ketidakmampuan membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah.
Isi Surat Perpisahan yang Mengharukan
Sebelum mengambil langkah tragis tersebut, korban yang masih berusia 10 tahun itu meninggalkan sebuah surat perpisahan. Dalam suratnya, terungkap rasa putus asa sang anak karena tidak mampu memenuhi kebutuhan alat tulis untuk belajar. Kabar duka dan isi surat tersebut kemudian menjadi viral di media sosial, menyentuh hati netizen dan menyulut keprihatinan nasional mengenai tekanan pada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Beban Keuangan dan Tanggapan Ahli
Berdasarkan informasi yang berkembang, beban biaya sekolah yang harus ditanggung korban disebutkan mencapai Rp 1,2 juta. Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti tragedi ini dan mengaitkannya dengan mekanisme penyaluran bantuan pendidikan seperti Dana Indonesia Pintar (BIP) atau Program Indonesia Pintar (PIP), yang dinilai perlu evaluasi agar tepat sasaran dan menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Psikolog juga angkat bicara, mengingatkan tanda-tanda tekanan emosi pada anak yang seringkali luput dari perhatian orang tua dan guru.
Respons Otoritas dan Sorotan Publik
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang setempat belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penyelidikan mendalam atas penyebab pasti tragedi ini. Namun, viralnya kasus ini telah memantik diskusi luas di masyarakat mengenai tingkat stres akademik dan kesenjangan ekonomi yang dapat mempengaruhi kesehatan mental anak-anak Indonesia. Masyarakat mendorong adanya intervensi yang lebih serius dari sekolah dan pemerintah daerah untuk mendeteksi dan membantu siswa yang mengalami kesulitan serupa.
Berita ini dikembangkan berdasarkan laporan dari berbagai sumber media nasional.



