Bukan Sekadar Libur: Saat Jakarta “Bernafas” Tanpa Ganjil Genap di Hari Imlek, Ada Drama di Balik Senyuman Perayaan
Jakarta, 16 Februari 2026 – Ada bisikan khas di Ibu Kota pagi ini. Bukan deru mesin yang bergumam parau di lampu merah, melainkan desir angin yang leluasa menyusuri koridor Sudirman-Thamrin. Senin (16/2/2026) terasa lain. Jakarta sejenak “bernafas”.
Hari ini, genap 24 jam sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi meniadakan sistem pembatasan kendaraan bermotor—ganjil genap . Bukan karena aspal sedang rehat, melainkan karena denyut nadi kota mengikuti irama yang berbeda: perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. agen88 daftar
Hening di Jalan, Meriah di Klenteng
Jika biasanya Senin pagi adalah adegan repetitif pengemudi yang frustrasi menatap spion, pagi ini adalah anomali indah. Ruas jalan yang biasanya menjadi “sirkuit” kendaraan pribadi terasa lapang. Seperti ada kesepakatan tak tertulis bahwa kota ini sedang mengambil jeda.
Seorang pengemudi ojek online, Pak Rahmat (45), yang biasa mangkal di kawasan Semanggi, terlihat menikmati kopi tubruknya lebih lama dari biasanya. “Sepi, Pak. Biasanya jam segini sudah keringetan kejar-kejaran setoran. Tapi libur begini enak, udaranya beda. Jakarte ngasih napas buat kita yang kerja di jalan,” ujarnya santai sambil melempar senyum kepada awak media.
Suasana hening ini adalah buah dari Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri yang menetapkan 16 Februari sebagai cuti bersama dan 17 Februari sebagai hari libur nasional . Dinas Perhubungan DKI pun bergerak cepat menerapkan Pergub Nomor 88 Tahun 2019 yang memang mengamanatkan peniadaan ganjil genap pada hari libur .
Namun, jangan salah sangka. Meski jalanan lengang, Jakarta tidak sedang tidur. Di berbagai penjuru, kota ini justru berpesta.
Cahaya Lampion dan Simfoni Toleransi
Kemeriahan terpancar terang di Bundaran HI. Ribuan lampion merah berpadu dengan instalasi cahaya modern dalam gelaran Festival Imlek Jakarta 2026. Ini bukan sekadar hiasan, tapi deklarasi visual bahwa Jakarta adalah rumah bagi semua.
Saya berkesempatan berbincang dengan seorang wisawatan asal Semarang, Keluarga Tan, yang sengaja datang untuk menikmati Jakarta Light Festival di kawasan Kota Tua. “Dari tahun ke tahun, perayaan Imlek di Jakarta selalu naik kelas. Tahun ini aksesnya gampang banget karena bebas ganjil genap. Anak-anak saya bisa lihat barongsai di Monas malam nanti tanpa takut kejebak macet,” ujar Ibu Sisca Tan, matanya berbinar memantulkan cahaya lampion.
Pemerintah memang menyiapkan “paket komplit” liburan. Mulai dari Festival Pecinan Jakarta di TMII, Harmoni Jakarta di Blok M, hingga puncak acara Semarak Imlek Jakarta di kawasan Monas yang akan berlangsung malam ini . Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut periode ini sebagai puncak kemeriahan sebelum masyarakat bersiap menyambut bulan suci Ramadan.
Sinyal Bahaya dari Langit dan Laut
Namun, di balik gemerlap lampion dan euforia bebas macet, ada catatan penting yang harus menjadi perhatian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan “amplop kuning” bagi para perayasa yang berencana liburan ke luar kota atau berlayar.
Bagi yang berniat “cabut” dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak atau Bakauheni, siap-siap dengan potensi keterlambatan. BMKG memperingatkan gelombang tinggi hingga 4 meter di perairan barat Kepulauan Batu dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Sumatera Utara, yang dampaknya bisa terasa hingga sistem pelayaran nasional .
Tak hanya itu, peringatan dini cuaca ekstrem juga dikeluarkan untuk wilayah pesisir Kalimantan Selatan. Banjir pesisir (rob) setinggi 2,6 meter diprediksi menggenangi Kotabaru, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu mulai hari ini hingga 24 Februari mendatang akibat fase bulan baru .
“Kami imbau masyarakat pesisir, khususnya yang sedang liburan, untuk waspada terhadap pasang maksimum yang berpotensi terjadi pada pukul 07.00-10.00 dan 18.00-20.00 Wita,” tegas Utari Randiana, Prakirawan Cuaca BMKG, dalam rilis yang diterima media .
Sektor Lain Ikut “Libur”, Saham dan Hiburan
Dampak libur panjang ini merambah hingga ke lantai bursa. Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk sementara waktu menghentikan aktivitas perdagangannya hari ini dan besok. Para investor pun harus bersabar dan menunggu roda pasar berputar kembali pada Rabu, 18 Februari 2026 .
Sementara itu, untuk mengisi waktu luang di rumah, industri hiburan juga ikut menghangat. Sinetron legendaris “Amanah Wali 8: Musala dan Sultan” resmi tayang perdana hari ini di RCTI. Menariknya, sinetron ini tidak hanya mengusung komedi khas Wali, tetapi juga mengangkat isu sosial serius seperti sengketa tanah wakaf . Sebuah tontonan yang relevan di tengah refleksi perayaan dan kebersamaan.
Refleksi di Tengah Perayaan
Hari ini, Jakarta adalah kota yang kontras. Jalanan yang lengang berbanding terbalik dengan riuhnya pusat keramaian. Kebijakan “stop” ganjil genap selama dua hari ini (16-17 Februari) membuktikan bahwa mobilitas kota tidak selamanya harus kaku.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Andhika Permata, menyebut perayaan ini sebagai “ruang kolaborasi budaya.” Bahwa Imlek bukan hanya milik etnis Tionghoa, tapi milik semua warga Jakarta yang haus akan keindahan dan kebersamaan .
Jadi, jika Anda keluar rumah malam ini, jangan hanya terpukau pada ribuan lampion yang bergoyang. Dengarkan juga bisik angin di jalanan yang lengang. Itulah suara Jakarta yang sedang berbahagia, merayakan keberagaman dengan caranya yang paling elegan.






